Cara Mulai Bisnis Bagi Pemula

Trik Memulai Bisnis

Cara Digembala Lebih Menguntungkan daripada di Kandang

Beternak domba dorper selama ini dilakukan bersama langkah dikandangkan. Domba dikurunng dan tinggal diberi pakan oleh pemiliknya.

Namun tidak bersama yang dilakukan oleh peternak di Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati nbeternak domba bersama langkah diangon (digembala). Atau oleh para peternak dibilang domba kacang.

Jumlah domba yang diangon pun tidak hanya belasan, tepai mampu menggapai ratusan ekor. Biasanya para peternak domba kacang menggembala domba di pekarangan kosong atau pegunungan.
Seorang peternak Didin dan Yati warga Blok Kawaur, Desa Kertajati, Kecamatan Kertajati apabila dia punyai sampai 80 ekor domba.

Awalnya mereka mengaku punyai domba 6 ekor hasil maparon, (beternak milik orang lain), sesudah sebagian bulan, domba yang dipeliharanya makin banyak sampai selanjutnya domba milik majikannya dikembalikan.

Setiap pagi pukul 10.00 WIB selepas kerja di kebun atau sawah, Didin merasa mepelas domba-dombanya yang ada di kandang dan menggembalakannya di padang rumput di kira-kira Bandara Kertajati yang kebetulan waktu musim penghujan rumput terlampau mudah.

Di waktu tengah hari, dia memandikan dombanya bersama menggiring seluruh domba untuk masuk ke sebuah sungai kecil yang ada cerukan bersama kedalaman kira-kira 1 meteran. ternaknya lantas melintasi sungai yang katanya untuk mendinginkan tubuh ternak. Setelah itu domba ulang naik ke padang rumput untuk makan.

Menggembala kambing dilakukannya sampai pukul 16.00 WIB atau lebih, terkait jarak penggembalaan dan situasi rumput.

Kalau tengah musim garap lahan, pukul 06.00 WIB pergi ke sawah atau ke kebun dulu, baru pukul 10.00 WIB menggembala. Kalau tidak tengah menggarap lahan menggembala mampu lebih pagi lagi,” kata Yanti yang menunjang suaminya menggiring ternak ke pemandian di sungai.

Dari domba peliharaanya Didin dan Yanti mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari atau untuk ongkos sekolah anaknya yang paling besar kini telah duduk di bangku SMK atau untuk kebutuhan skunder.

“Kadang tiap bulan menjajakan domba untuk kebutuhan di rumah,” kata Yanti kepada wartawan “PR” Tati Purnawati.

Kondisi yang sama terhitung dilakukan Wahyu dan Wardaya warga Desa Babadjurang, Kecamatan Jatitujuh tiap-tiap pagi mereka menggembala puluhan dombanya ke padang rumput atau ke perkebunan tebu, yang kebetulan wilayahnya berdekatan bersama lokasi perkebunan tebu dan pihak PTPN melepas penduduk untuk menggembala selama tidak menganggu tanaman.

Setiap pagi sampai senja hari ratusan domba milik sebagian peternak berkumpul di penggembalaan. Sorenya waktu pulang domba yang semula menyatu segera mengantarai diri berkumpul bersama keluarganya masing-masing.

Seolah mereka jelas keluarganya sendiri meskipun tidak diberi sinyal apapun. Demikian terhitung bersama pemiliknya terlampau hapal bersama ternaknya sendiri meskipun jumlahnya tidak sedikit.

Kepala Desa Jatiraga, Kecamatan Jatitujuh, Carsidik mengungkapkan, ada 5 desa di wilayahnya yang masyarakatnya punyai pencaharian beternah domba kacang selain bertani, yakni Desa Jatiraga, Babadjurang, Pilangsari, Sumber Kulon dan Sumber Wetan.

Menurutnya seluruh ternak domba di wilayahnya digembalakan ke padang rumput atau di kebun tebu, tidak ada yang berada di kandang terkecuali malam hari. Sehingga pemilik tidak perlu menyabit rumput. “Pagi digembalakan dan sore pulang,” katanya.

Dari domba berikut masyarakatnya mampu mencukupi kebutuhan skunder apalagi tersier. Pemilik mampu tiap-tiap bulan menjajakan sebagian ekor domba untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Di Desa Babadjurang jadi dikatakan, dibanding jumlah penduduknya lebih banyak domba peliharaan. Seorang peternah ada yang punyai domba sampai mendekati 100 ekor. Tak heran terkecuali pagi atau sore hari domba gembalaan berbaris di jalan raya sampai sukar bagi pengendara untuk melintas.

Menurut Kepala Desa Babadjurang Ahmad Basyar, para peternak disaat musim kemarau mampu menggembala ternaknya sampai belasan kilometer untuk melacak rumput, terkecuali di wilayahnya rumput mengering.

“Sekarang ini musim penghujan dadi rumput mudah. Kalau musim kemaru rumput kering supaya menggembala mampu lebih berasal dari 10 km. Pulang pergi domba dan penggembala terjadi lebih berasal dari 20 km,” kata Ahmad Basyar.

Namun itu biasa dilakukan penggembala. Mereka tak pernah mengeluh capek meskipun terjadi jauh. Ketuka menggembala hanya bekal air dan nasi alakadarnya untuk makan di penggembalaan.Karena ternak di wilayahnya digembalakan, maka tekstur daging ternak berikut berbeda, lebih kenyal dan berisi.

Hanya karena dombanya kebanyakan berukuran kecil atau disebut domba kacang, hargapun lebih tidak mahal dibanding domba lain, harganya berkisar antara Rp 1.000.000 sampai Rp 1.500.000 per ekor, terkecuali menjelang lebaran mampu menggapai Rp 2.000.000 per ekor.

“Domba gunung mah dimanja, parab di kandang, makanya tekstur dagingnya beda. Kalau domba kita di gembala lebih berisi,” kata Carsidik.

Mereka tidak jelas kapan dan siapa yang pertama kali beternak domba kacang. Mereka jelas sejak puouhan tahun warga telah beternak domba. Ke depan Carsidik dan Ahmad Basyar berencana menyebabkan kandang sebuah areal supaya tersentralisasi dan ringan menggembalakan.

Lahannya mampu memanfaatkan lahan HGU milik PG Jatitjuh.“Kami telah berkomunikasi bersama pihak PG, untuk menyebabkan kandnag tersebut. Satu peternak mampu menyebabkan kandang lebih besar dibanding yang mereka punyai saat ini supaya sesuai bersama kapasitas ternak yang dimiliki,” kata Ahmad Basyar.